Pengajian Musholla Al Ikhlas Puri Bintaro | Ustadz Bendri Jaisyarrahman | Bagaimana Menjadi Orang Tua yang Dirindukan

12. February 2016 Parenting, Tausiyah 0

Event : Pengajian Musholla Al Ikhlas Puri Bintaro
Tanggal : 12 Feb 2016
Pemateri : Ustadz Bendri Jaisyurrahman
Tema : Bagaimana menjadi orang tua yang dirindukan

Didalam al Quran, percakapan antara orang tua dan anak tergambar pada :
17 Dialog pengasuhan tersebar di 9 surat
14 dialog antara ayah dan anak
2 dialog antara ibu dan ayah
1 dialog antara ortu tanpa nama dan anaknya

Pola asuh dialogis yang dilaksanakan Nabi Ibrahim kepada anaknya
Qs Ash Shaffat : 100-102
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar, Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar

Pola asuh antara ayah dan anak yang sangat dekat menyebabkan anak bercerita atau meminta pendapat kepada ayahnya
Qs Yusuf : 4
Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya,“Wahai Ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan kelihatan semuanya sujud kepadaku…

Perbedaan antara Abi dan Abati
– Abi karena sering dilihat, Jaraknya dekat
– Abati karena jarang dilihat, Jaraknya jauh

Jadi orang tua yang dirindukan anak, indikatornya :
1. Anak ingin selalu dekat disampingnya
Anak menganggap ibu adalah rumahnya karena dia nyaman didalamnya
Rumah adalah dimana ibunya berada, bukan sekedar alamat surat dikirimkan

Bagaimana tahapannya ?
a. Orang tua mampu mengikat hati anak
Dampaknya :
– Anak taat kepada ortunya meskipun berbeda pendapat dengan orang tuanya

Kisah tentang Akhlaq Istri :
Dikisahkan Nabi Ibrahim AS berkunjung ke menantunya. Pada waktu itu, anaknya, Nabi Ismail AS tidak ada di rumah. Dan ternyata sang mantu belum pernah berjumpa dengan sang mertua

Nabi Ibrahim : Siapakah kamu ?
Menantu : Aku isteri Ismail.
Nabi Ibrahim : Di manakah suamimu, Ismail ?
Menantu : Dia pergi berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga ?
Menantu : (sambil mengeluh) Oh, kami semua dalam penderitaan dan tak bahagia
Nabi Ibrahim : Baiklah! Jika suamimu sudah kembali, tolong sampaikan salamku padanya. Dan katakan padanya, ‘tukar tiang pintu rumahnya’ (kiasan untuk menceraikan isterinya).
Menantu : Ya, baiklah.
Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu, isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka.

Nabi Ismail : Apa saja yang ditanya oleh orang tua itu ?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawapanmu?
Isteri : Aku ceritakan kita ini orang yang susah. Hidup kita ini selalu dalam penderitaan dan tak bahagia.
Nabi Ismail : Apa dia ada pesan ?
Isteri : Ada. Dia titip salam padamu dan dia berpesan agar engkau menukarkan tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Sebenarnya dia itu ayahku. Dia menyuruh kita berpisah (bercerai). Maka,
Sekarang kembalilah kamu kepada keluargamu.
Ismail pun menceraikan isterinya yang suka mengeluh, tak bertimbang rasa serta tidak bersyukur kepada takdir Allah SWT. Malah dia menceritakan rahasia rumah tangga kepada orang luar.

Kemudian Nabi Ismail AS menikah lagi.
Pada suatu ketika, Nabi Ibrahim AS datang lagi ke Makkah dengan tujuan kembali mengunjungi anak dan menantunya. Dan bias ditebak, terjadilah pertemuan antara mertua dan menantu ‘barunya’ itu.

Nabi Ibrahim : Dimana suamimu ?
Menantu : Dia tidak ada dirumah. Dia sedang memburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga ? Mudah-mudahan dalam kesenangan ?
Menantu : Alhamdulillah, kami semua dalam keadaan sehat sejahtera,
tidak kurang suatu apa.
Nabi Ibrahim : Baguslah kalau begitu.
Menantu : Silakan duduk sebentar. Bolehkah saya hidangkan sedikit makanan.
Nabi Ibrahim : Apa pula yang ingin kamu hidangkan?
Menantu : Ada sedikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu.
Nabi Ibrahim : (Berdoa) Ya Allah! Ya Tuhanku! Berkatilah mereka dalam makan minum mereka. (Berdasarkan peristiwa ini, Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah berkat doa Nabi Ibrahim).
Nabi Ibrahim : Baiklah, nanti apabila suamimu pulang, sampai kan salamku kepadanya. Suruhlah dia menetapkan tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan untuk meng-kekal-kan isteri Nabi Ismail).
Ketika Nabi Ismail pulang dari berburu, seperti biasa dia bertanya siapa datang yang datang mencarinya.

Nabi Ismail : Adakah yang datang ketika aku tiada di rumah?
Isteri : Ya, ada. Seorang tua yang baik rupanya dan perwatakannya sepertimu.
Nabi Ismail : Apa katanya?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku bilang padanya bahwa hidup kita dalam keadaan baik, tidak kurang suatu apa. Aku ajak juga dia makan dan minum.
Nabi Ismail : Apa dia ada pesan ?
Isteri : Ada, dia berkirim salam buatmu dan menyuruh kamu menetapkan tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku. Tiang pintu yang dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku kekalkan.
Isteri : Alhamdulillah, syukron.
https://id-id.facebook.com/notes/1001-kisah-teladan-ambil-hikmahnya/kisah-nabi-ibrahim-dan-menantunya/10150147044625337/

Oleh karena itu, Orang tua dan anak yang saling terikat hatinya, tanpa menggunakan kalimat yang lugas, anak tahu apa yang dimaksud orang tuanya begitu pula sebaliknya

Bahkan, Kalau orang tua marah kepada anak, maka anak memang merasa karena dia sendiri yang salah, bukan karena ke “tidak sayang” an orang tuanya

Jangan merasa “sok tau” kepada orang lain, karena yang mengetahui isi hati hanya Allah :
Dia berkata, ‘Dan kami saat itu diberitahukan peristiwa Usamah bin Zaid, yang mana ketika dia telah mengangkat pedangnya, tiba-tiba orang musyrik itu mengucap, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah’, namun dia tetap saja membunuhnya. Maka Basyir pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengadukan dan menanyakan hal itu kepada beliau. Dia menceritakannya kepada beliau dan apa yang diperbuat oleh lelaki tadi. Maka beliau pun memanggil Usamah dan menanyainya, ‘Kenapa kamu membunuhnya? ‘ Dia menjawab, ‘Wahai Rasulullah, dia telah melukai kaum muslimin, dia telah membunuh si fulan dan si fulan, dan dia menyebutkan sebuah nama kepadanya, dan sungguh telah menyimpan dendam terhadapnya, namun ketika dia melihat pedangku ini, dia mengucap, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Apakah kamu yang telah membunuhnya? ‘ Dia menjawabnya, ‘Ya.’ Beliau bertanya lagi: ‘Lalu apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah’, jika di hari kiamat kelak ia datang (untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? ‘ (HR Muslim)

Tips bagaimana mengikat hati anak : Buat moment yang berkesan untuk anak

– Anak tetap hormat kepada orang tua meskipun dimarahi
– Anak tidak punya privacy kepada orang tuanya, anak menceritakan apapun isi hatinya
– Orang tua jadi sosok yang dirindukan oleh anak, sehingga nasehat orang tuanya akan menjadi prinsip hidup dimana saja dia berada, bahkan ketika orang tuanya tidak ada disampingnya

– Orang tua mampu membuat anak tidak betah diluar rumah, rasanya nyaman senantiasa ketika di dalam rumah
– Anak menjadikan referensi orang tuanya dalam mencari pendamping hidup, bahkan terkadang pasangan hidup yang berasal dari pilihan ortunya

Bagaimana menyikapi anak yang “bosan” dengan ucapan orang tua ?
Jika menginstruksikan sesuatu, gunakan kalimat yang berbeda meskipun maksudnya sama

Bagaimana cara membuka jalan agar anak mau curhat kepada orang tua ?
Awali dengan menjadi orang tua yang banyak bercerita, bukan banyak bertanya dan jangan lupa fasilitasi anak untuk mengelola emosinya


Komentar, Pertanyaan dan Masukkan