Ekonomi Syariah di Tengah Masyarakat | Ustadz Sofyan Rizal, Msi

Majelis Ilmu Sabtu Dhuha – Masjid Imanuddin Graha Bintaro

Ekonomi Syariah di Tengah Masyarakat

 

Cakupan ajaran Islam dibagi menjadi:

a. Akidah (Iman)

b. Syariah (Islam)

  • Fiqih muamalah
  • Fiqih Ibadah

c. Akhlaq (Ihsan)

Muamalah dibagi menjadi:

  • Politik
  • Pidana
  • Perdata
  • Sosial
  • Ekonomi

Ekonomi terbagi menjadi:

  • Produksi
  • Konsumsi
  • Distribusi
  • Keuangan

 

Konsepsi Dasar Ekonomi Konvensional

  1. Rational Ecomonics Man
  2. Positivisme
  3. Free market

Rational Economics Man

Prinsip ekonomi ialah pihak manapun digerakkan oleh kemauan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau self interest rationalism. Masyarakat dikonseptualisasikan sebagai sebuah kumpulan individu individu yang diikat pemenuhannya oleh nafsu pribadi berdasarkan hal tersebut, ilmu ekonomi hanya mengkaji aspek kebutuhan individu dari sisi materialnya saja, dan menghilangkan semua aspek non ekonomi. Bahkan lebih jauh dari itu, rasionalitas ekonomi dipahami semata-mata uang dalam menyelesaikan segala urusan dan tanggung jawab sosial diraih apabila memberikan peningkatan terhadap keuntungan.

Positivisme

Manusia memiliki kebebasan yang tidak terbatas dalam menentukan pilihan-pilihannya. Dengan memberikan penekanan berlebihan pada individu yang mengakibatkan kehancuran pertimbangan nilai. Mengesampikan peran nilai sebagai alat filterisasi dalam alokasi dan distribusi sumber daya serta menjadikan selera, preferensi dan institusi sosial ekonomi sebagai variabel yang sangat menentukan.

Free Market

Didasarkan pada hukum fisika Newtonian, bahwa alam semesta akan berjalan secara baik apabila dibiarkan lepas sesuai kehendaknya. Berdasarkan hal ini maka proses produksi akan menciptakan kekuatan permintaannya sendiri dan tidak akan terjadi kelebihan produksi maupun pengangguran. Setiap kecenderungan yang akan menciptakan kelebihan produksi atau pengangguran dalam sebuah perekonomian akan terkoreksi secara otomatis. Dalam free market, ekonomi ditentukan oleh pasar dan tidak boleh ada campur tangan pihak lain. Kekuatan pasarlah yang akan menciptakan keharmonisan, setiap campur tangan akan menghasilkan inefisiensi.

Konsumerisme

Saat kita membeli barang yang tidak kita butuhkan dengan uang yang kita tidak punya untuk membuat orang yang kita tidak suka terkesan merupakan bentuk dari konsumerisme. Dalam kamus besar bahasa Indonesia arti dari konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang- barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar atau berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah dihilangkan. Sifat konsumtif yang ditimbulkan bersifat addict menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam hidupnya. Konsumerisme adalah sikap atau sifat menjadikan barang sebagai ukuran kebahagiaan hidup.

Konsumerisme menjangkiti telah kita. Hasil riset Kadence International mencenangkan. Perusahaan riset global ini merilis riset “Share of Wallet”. Riset berdasarkan segmentasi kelas ekonomi dan pola konsumsi masyarakat Indonesia ini dilihat oleh besarnya tabungan (tahun 2013). Hasilnya seperempat dari masyarakat Indonesia diketahui masuk dalam kelompok “Besar pasak daripada tiang “ atau lebih banyak pengeluaran daripada pendapatannya. Dan membuat pengeluaran tidak rasional, mencari kelonggaran finansial (kredit) lalu terlilit hutang. Riset ini juga menyimpulkan, 28% masyarakat Indonesia berada dalam kategori broke atau kelompok yang pengeluarannya lebih besar daripada pendapatannya sehingga mengalami defisit sekitar 35%. Rata-rata pendapatannya meraka, 3 juta perbulan sementara pengeluaran mereka 5,8 juta. Ini menimbulkan defisit mencapai 1,5 juta.

Hutang Karena Lifestyle

Tipe broke tadi memiliki kecendurungan ingin menaikan status menjadi upperclass ini membuat mereka meminjam uang dan memiliki hutang agar dapat membei barang yang dapat menaikan status sosial mereka. Bahkan hal ini sudah menjadi gaya hidup. “Hari gini, nggak ngutang nggak keren”. Survey dari Indonesia Middleclass Banking Consumer Class menghasilkan  banking Consumer Report : “ Getting cashless and mobile “ (2013).

Buy Now, Pay Latter.

Ketika saya menanyakan kepada responden apakah membeli produk dengan cara berhutang dan mencicil itu baik atau buruk, maka jawaban yang saya dapat sungguh mencengangkan. Sekitar 77% dari total responden mengatakan baik, 10% baik sekali dan 2% sangat baik sekali. Jadi tota 89% dari mereka mengatakan bahwa berhutang itu baik hingga sangat baik sekali. Hanya minoritas (10%) dari mereka yang mengatakan bahwa berhutang dan bercicil itu buruk. WOW !

Gaya Hidup Cashless Mendorong Konsumerisme dan Hutang

Hasil survey Center for Middleclass Consumer Studies menunjukan sudah cukup banyak nasabah kelas menengah kita yang menggunakan transaksi non tunai (cashless) dengan memanfaatkan layanan transaksi elektronik seperti atm, kartu debit, internet banking, mobile banking, e-money. Setelah lebih dari 10% struggling belajar menggunakan berbagai layanan transaksi elektronik tersebut, kini mereka merasa nyaman dan biasa.

Sebagai gambaran untuk belanja online secara signifikan konsumen kelas menengah kita yang menggunakan 24%, e-banking dan kartu kredit 13%. Untuk keperluan makan diluar rumah, cukup besar mereka yang menggunakan kartu debit 21% dan kartu kredit 1% sementara untuk berbagai tagiahan (listrik, air, telepon, tv kabel, dll) mereka juga mulai nyaman menggunakan kartu debit yaitu sebesar 25%, kartu kredit 10%, dan e-banking 8%.

Mendorong Konsumtifisme

Semakin cashless mereka maka semakin royal mereka. Kian banyak konsumen kelas menengah yang membeli secara non tunai. Bahkan semakin besar pula kecenderungan mereka membelanjakan uangnya lebih baik lagi, gampangnya semakin banyak konsumen menggunakan kartu debit, kartu kredit, e-banking, maka semakin konsumtif mereka karena itu tak bisa dipungkiri layanan non tunai telah menjadi salah satu biang kian konsumtifnya konsumen kelas menengah kita, mereka menjadi kian kurang berhemat dan kurang menabung.

Sebuah survey menarik yang dilakukan di Amerika menemukan orang yang memiliki lebih banyak kartu kredit di dompetnya akan cenderung membelanjakan uangnya lebih besar untuk setiap mall yang dikunjunginya. Kehadian transaksi non tunai, willingness to pay (keinginan untuk membayar) terkatrol menjulang tinggi. Williness to pay konsumen bisa meroket 50 hingga 200% oleh adanya layanan transaksi non tunai, demikian kesimpulan dari survey tersebut.

Mengapa Pain of Paying

Pertanyaannya mengapa kitamenjadi begitu konsumtif saat terbiasa dan dimanjakan oleh pelayanan pembayaran non tunai?

  1. Karena tersedianya akan layanan ini memicu tercipta apa yang disebut mental decoupling, yaitu proses keterpisahan antara membeli barang dan membayar. Maksudnya, membelinya sekarang membayarnya belakangan (buy now pay latter). Keterpisahan inilah yang menjadikan kita cenderung oportunistik, pokoknya hantam promo beli dulu sekarang, bayarnya dipikirkan belakangan.
  2. Orang yang membeli secara non tunai cenderung memiliki pain of paying. Apa itu pain of paying? Ketika kita membayar dengan membayar uang kertas atau koin maka secara psikologis kita akan merasakan sakit saat uang kertas atau koin itu berpindah dari tangan kita ke tangan penjual.

 

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. (QS: At-Takaatsur [102]: 1)

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS: At-Takaatsur [102]: 2)

Pakar tafsir dari universitas Al Azhar Mesir, Asysyarawi, dalam kitab Al Mukhtar Fi Tafsiri Quranil Azhim menyebutkan dua makna At Takaatsur. Yang pertama ditunjukan kepada orang yang selalu ingin lebih menonjol dari orang lain bahkan merasa bangga dengan kepemilikan harta dan yang lainnya. Yang kedua ia berupaya keras dengan berbagai cara untuk memperoleh hasratnya itu, sehingga muncul penafsiran seperti disebutkan Asysyarawi “ Al Hukum Hubutakattsuri Fima Tathlabun, kamu dilalaikan oleh kecintaan mengerjar berbagai kemegahan dunia.

 

Konsepsi Dasar Ekonomi Islam

Karakter Ibad Al Rohman

Dalam konsep Islam, orang-orang Islam yang didalam bahasa Al Quran disebut dengan ‘Ibadurrahman (Qs. Al Furqaan [25]: 63).

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

‘Ibadurrahman adalah:

  • Orang-orang yang berperilaku dan berkegiatan yang konsisten dengan prinsip prinsip Islam berdasarkan wahyu Allah yang bersumber kepada Al Quran dan Assunah. Perilaku dari islamicman (‘ibadurrahman) adalah dianggap rasional apabila sikap dan perilakunya berkesesuaian dengan aturan syariah yang bertujuan menciptakan keseimbangan dan kesejahteraan masyarakat.
  • وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

    Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. (QS: Al-Furqaan [25]: 64).

  • وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

    Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. (QS: Al-Furqaan [25]: 65).

  • وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

    Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
    (QS: Al-Furqaan [25]: 67).

Karakteristik

  1. Allah yang memiliki kualifikasi untuk menerangkan hukum-hukum yang dapat membawa kesuskesan (kebahagiaan) manusia di dunia ini dan akirat kelak.
  2. Perilaku Islamic Man menundukan diri kepada prinsip-prinsip ekonomi yang dijelaskan oleh Maha Pencipta dan bukan dari yang lainnya.
  3. Pilihan keputusan ekonomi diambil dengan menekankan pada sifat kualitatif (yang sah atau halal) dan pilihan itu adalah dianggap rasional karena berkesesuain dengan karakter dari ‘Ibadurrahman.
  4. ‘Ibadurrahman tidak bersifat materialistik, tidak berlebihan dan beriorientasi ke masa depan (akhirat).

Penggunaan Harta

  1. Tidak boros dan tidak kikir.

    يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

    Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS: Al-A’raf [7]: 31)

    وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا

    Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.
    (QS: Al-Israa’ [17]: 29)

  2. Memberi shodaqoh dan infaq.

    مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاء وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

    Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.(QS: Al-Baqarah [2]: 261)

  3. Membayar zakat sesuai ketentuan.

    خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

    Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS: At-Taubah [9]: 103)

  4. Memberi pinjaman tanpa bunga dan meringankan orang yang berhutang.

    وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

    Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS: Al-Baqarah [2]: 280).


Komentar, Pertanyaan dan Masukkan