A to Z soal Haid, Nifas, Wiladah dan Istihadhoh dan Merawat Kebersihan Kewanitaan | Ustadzah Lulung Umrulain dan dr Ratna Purnamasari

A to Z soal Haid, Nifas, Wiladah dan Istihadhoh dan Merawat Kebersihan Kewanitaan

Taklim Ma.na @ Mall Alam Sutera

 

Keutamaan bersuci

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS: Al-Baqarah [2]: 222).

Asbabun nuzul ayat ini menurut Anas Bin Malik dalam buku Nailul Authar adalah sebagai jawaban Nabi kepada para sahabatnya atas pertanyaan mereka tentang haidh dan kisah orang-orang Yahudi yang tidak mau makan bersama-sama istri mereka dan tidak mau tinggal bersama mereka dalam satu rumah selama masa haidhnya.
Bahwa wanita yg sedang datang bulan disebut sebagai dalam keadaan kotor sehingga hendaknya tidak dicampuri oleh suaminya tidak mengindikasikan bahwa wanita tersebut tidak boleh juga melakukan sholat. Ayat ini sekali lagi hanya bercerita mengenai hubungan sesama manusia dan bukan hubungan antara seorang hamba dgn Tuhannya.

 

Definisi Haid

Secara etimologi (bahasa), haid berarti aliran atau sesuatu yang mengalir. Adapun pengertian haid dalam lingkup syariat (ajaran Islam) adalah darah yang mengalir dari dasar rahim seorang wanita usia akil balig, yang bukan darah persalinan atau sakit, dan terjadi pada hari-hari tertentu, dan dapat berulang pada periode (waktu) tertentu.

 

Waktu Haid

Mayoritas ulama berpendapat bahwa jumlah hari terbanyak dari haid seorang wanita adalah lima belas hari. Untuk itu jika masih ada darah yang keluar setelah 15 hari maka darah tersebut dianggap sebagai darah Istihadhah (aliran darah yang keluar terus menerus karena penyakit). Selama darah istihadhah masih keluar maka seorang wanita tidak boleh berhenti untuk melaksanakan shalat dan puasa. Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan masa atau lamanya haid. Ada sekitar enam atau tujuh pendapat dalam hal ini.

Ibnu Al-Mundzir mengatakan: “Ada kelompok yang berpendapat bahwa masa haid tidak mempunyai batasan berapa hari minimal atau maksimalnya”. Pendapat ini seperti pendapat Ad-Darimi di atas, dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dan itulah yang benar berdasarkan Al-Qur’an, sunnah dan logika. Firman Allah Ta’ala. “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekatkan mereka, sebelum mereka suci…” . Dalam ayat ini, yang dijadikan Allah sebagai batas akhir larangan adalah kesucian.

 

Warna Darah Haid

Darah yang keluar dari kemaluan dinyatakan sebagai darah haid jika warna darah tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Hitam, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud dan Nasa’I dari Aisyah r.ah bahwa Fatimah binti Abi Hubaisy mengalami haid, maka Rasulullah saw pun berkata: “sesungguhnya darah haid itu telah diketahui berwarna hitam; jikalau, jika memang demikian, berhentilah dari shalat.”
  2. Merah, sebagai warna asli darah haid.
  3. Kuning atau kekuning kuningan.
  4. Keruh, antara warna hitam dan putih atau kehitam-hitaman.

Aisyah berkata : Kalian jangan tergesa-gesa sebelum kalian melihat cairan putih.

Amalan Yang Dilarang Bagi Wanita Haid

a. Shalat

b. Puasa

c. Berdiam diri dalam masjid

d. Thawaf

e. Berhubungan badan

f. Thalaq

g. ‘Iddah dengan perhitungan bulan

h. Membaca Al Qur’an (terjadi perbedaan pendapat mengenai poin ini)

i. Menyentuh Al Qu’ran

pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS: Al-Waaqi’ah [56]: 78-79)

j. Boleh bercumbu tapi tidak boleh bersetubuh

k. Kafarat bagi istri yang haid yang disetubuhi suaminya, kafaratnya setengah dinar emas murni dalam bentuk apapun. Kafarat haid dan nifas sama.

m. Wanita hamil tidak mengalami masa haid.

n. Istri yang istihadhah yang disetubuhi suaminya, boleh disetubuhi, akan tetapi, ia juga diperbolehkan untuk meninggalkan shalat dan tidak bersetubuh.

o. Apabila sorang wanita lupa atas hari haidnya, maka ia boleh mandi setelah enam atau tujuh hari dan selanjutnya boleh puasa dan shalat.

p. Wanita yang baru menjalani haid, ia harus memperhatikan lama keluarnya haid, agar bisa menentukan berapa lama Ia haid dan waktu berikutnya adalah darah istihadhah.

q. Menjamak antara dua shalat, diperbolehkan bagi wanita yang istihadhah.

r. Usia minimal keluarnya haid, usia terendahnya adalah sembilan tahun.

s. Usia maksimal keluarnya haid, Usia maksimalnya adalah 50 tahun, jika darah keluar pada usia tersebut dalam hal ini ada dua penjelasan:

1. Hal itu dianggap sebagai proses sirkulasi darah yang mengalami kerusakan.
2. Apabila mengalir berulang – ulang, maka ia termasuk haid.

 

Hukum nifas sama seperti haid, baik itu yang menyangakut hal-hal yang wajib, haram maupun yang digugurkan.
Apabila haid berhenti, diperbolehkan untuk ber-puasa. Akan tetapi tidak diperbolehkan terhadap selain dari puasa kecuali setelah mandi.

Setelah haid berhenti, maka kembali berlaku baginya empat hukum asal:
1. kewajiban shalat
2. sahnya thaharah karena haid
3. mengerjakan puasa
4. diperbolehkan thalaq

 

Istihadhah

Adalah darah yang keluar dari seorang wanita diluar kebiasaan dan kewajaran, karena sakit atau semisalnya.

Bila seorang wanita terus menerus keluar darah dari kemaluannya, tanpa berhenti, maka untuk mengetahui apakah darah tersebut darah haid ataukah darah istihadhah bisa dengan tiga cara berikut ini secara berurutan:

  1. Apabila sebelum mengalami hal tersebut ia memiliki kebiasaan (‘adah) haid maka ia kembali pada kebiasaannya (‘adah-nya). Ia teranggap haid di waktu-waktu ‘adah tersebut, adapun selebihnya berarti istihadhah. Selesai masa ‘adah-nya ia mandi dan boleh melakukan ibadah puasa dan shalat (walau darahnya terus keluar karena wanita istihadhah pada umumnya sama hukumnya dengan wanita yang suci).
  2. Bila ternyata si wanita tidak memiliki ‘adah dan darahnya bisa dibedakan, di sebagian waktu darahnya pekat/kental dan di waktu lain tipis/encer, atau di sebagian waktu darahnya berwarna hitam, di waktu lain merah, atau di sebagian waktu darahnya berbau busuk/tidak sedap dan di waktu lain tidak busuk, maka darah yang pekat/kental, berwarna hitam, dan berbau busuk itu adalah darah haid. Yang selainnya adalah darah istihadhah.
  3. Apabila si wanita tidak memiliki ‘adah dan tidak dapat membedakan darah yang keluar dari kemaluannya, maka di setiap bulannya (di masa-masa keluarnya darah) ia berhaid selama enam atau tujuh hari karena adanya hadits-hadits yang tsabit dalam hal ini. Kemudian ia mandi setelah selesai enam atau tujuh hari tersebut walaupun darahnya masih terus keluar. Sedapat mungkin ia menyumpal tempat keluarnya darah (bila darah terus mengalir) dan berwudhu setiap kali ingin menunaikan shalat.”

 

Nifas

1. Definisi Nifas: nifas adalah darah yang keluar disebabkan oleh kelahiran anak. Hukum yang berlaku pada nifas adalah sama seperti hukum haid, baik mengenai hal-hal yang diperbolehkan, diharamkan, diwajibkan, maupun dihapuskan. Masa nifas adalah 40 hari.

2. Keguguran: Apabila janin sudah berbentuk manusia, maka darah yang keluar sesudahnya adalah darah nifas. Adapun jika janin belum berbentuk, maka tidak dikategorikan sebagai darah nifas dan baginya shalat dan puasa.

3. Melahirkan Dua Anak: Masa nifasnya dimulai dari kelahiran anak pertama. Batas minimalnya tidak ditentukan dan batas maksimalnya adalah 40 hari.

4. Amalan Yang Diharamkan: Bagi wanita yang haid maka itu yang diharamkan oleh wanita yang nifas.

5. Amalan Yang Mubah Bagi Wanita Haid dan Nifas:

a. Bercumbu pada bagian – bagian selain kemaluan.
b. Berdzikir kepada Allah Ta’ala
c. Ihram, wuquf di Arafah, semua amalan haji dan umrah selain thawaf
d. Makan dan minum bersama

6. Amalan Yang Boleh Dilakukan Wanita Haid dan Nifas

a. Mencukur rambut dan memotong kuku
b. Pergi ke pasar
c. Menuntut ilmu
d. Berdzikir
e. Membaca hadits, dll.

7. Apabila Keluar Darah Setelah Bersuci Lima Belas Hari

Apabila darah keluar selama satu hari satu malam, setelah bersuci pada hari ke lima belas (setelah masa nifasnya selesai), maka itu dianggap darah haid. Akan tetapi, bila kurang dari satu hari satu malam, maka darah itu dianggap darah kotor dan boleh mengerjakan shalat dan puasa.

8. Thalaq dan ‘Iddahnya wanita Nifas
‘Iddah berlaku terhitung sejak dijatuhkannya thalaq, tanpa dipengaruhi oleh masa nifas, ini jika thalaq terjadi sebelum proses melahirkan, maka seorang istri harus menungu sampai datangnya masa haid berikutnya.

 

Mani

Mani adalah cairan berwarna putih yang keluar memancar dari kemaluan, biasanya keluarnya cairan ini diiringi dengan rasa nikmat dan dibarengi dengan syahwat. Mani dapat keluar dalam keadaan sadar (seperti karena berhubungan suami-istri) ataupun dalam keadaan tidur (biasa dikenal dengan sebutan “mimpi basah”). Keluarnya mani menyebabkan seseorang harus mandi besar/mandi junub. Hukum air mani adalah suci dan tidak najis ( berdasarkan pendapat yang terkuat). Apabila pakaian seseorang terkena air mani, maka disunnahkan untuk mencuci pakaian tersebut jika air maninya masih dalam keadaan basah. Adapun apabila air mani telah mengering, maka cukup dengan mengeriknya saja. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah, beliau berkata

“Saya pernah mengerik mani yang sudah kering yang menempel pada pakaian Rasulullah dengan kuku saya.” (HR. Muslim)

 

Wadi

Wadi adalah air putih kental yang keluar dari kemaluan seseorang setelah kencing. Keluarnya air wadi dapat membatalkan wudhu. Wadi termasuk hal yang najis. Cara membersihkan wadi adalah dengan mencuci kemaluan, kemudian berwudhu jika hendak sholat. Apabila wadi terkena badan, maka cara membersihkannya adalah dengan dicuci.

 

Madzi

Madzi adalah air yang keluar dari kemaluan, air ini bening dan lengket. Keluarnya air ini disebabkan syahwat yang muncul ketika seseorang memikirkan atau membayangkan jima’ (hubungan seksual) atau ketika pasangan suami istri bercumbu rayu (biasa diistilahkan dengan foreplay/pemanasan). Air madzi keluar dengan tidak memancar. Keluarnya air ini tidak menyebabkan seseorang menjadi lemas (tidak seperti keluarnya air mani, yang pada umumnya menyebabkan tubuh lemas) dan terkadang air ini keluar tanpa disadari (tidak terasa). Air madzi dapat terjadi pada laki-laki dan wanita, meskipun pada umumnya lebih banyak terjadi pada wanita. Sebagaimana air wadi, hukum air madzi adalah najis. Apabila air madzi terkena pada tubuh, maka wajib mencuci tubuh yang terkena air madzi, adapun apabila air ini terkena pakaian, maka cukup dengan memercikkan air ke bagian pakaian yang terkena air madzi tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah terhadap seseorang yang pakaiannya terkena madzi,

“Cukup bagimu dengan mengambil segenggam air, kemudian engkau percikkan bagian pakaian yang terkena air madzi tersebut.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan).

Keluarnya air madzi  membatalkan wudhu. Apabila air madzi keluar dari kemaluan seseorang, maka ia wajib mencuci kemaluannya dan berwudhu apabila hendak sholat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah,

“Cucilah kemaluannya, kemudian berwudhulah.” (HR. Bukhari Muslim)

 

Perkara yang Mewajibkan Mandi Wajib

  1. Bersetubuh – Sama ada keluar mani atau tidak. Bertemu dua khitan (memasukkan hasyafah ataupun batasan zakar yang disunatkan ke dalam faraj perempuan).
  2. Keluar Mani – Sama ada sengaja atau pun tidak.
  3. Orang Kafir Masuk Islam.
  4. Kematian.
  5. Haid.
  6. Nifas – Darah perempuan selepas bersalin.
  7. Wiladah – Perempuan bersalin.

Hal yang terlarang bagi orang yang junub :

  1. Shalat
  2. Thawaf
  3. Menyentuh mushaf quran dan membawanya (ikhtilaf fuqaha)
  4.  Membaca Al Quran sebagai wirid (Ikhtilaf fuqaha)
  5. Menetap di masjid untuk i’tikaf

 

Tata Cara Mandi Wajib (Mandi Junub/Mandi Besar) dalam Islam

1. Mandi wajib dimulai dengan mengucapkan bismillah, dan berniat untuk menghilangkan hadast besar.

2. Membersihkan kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian bercebok.

3. Membersihkan kemaluannya, dan kotoran yang ada di sekitarnya.

4. Berwudhu seperti halnya orang yang berwudhu hendak shalat, kecuali kedua kakinya. Namun boleh membersikan kedua kakinya ketika berwudhu atau mengakhirkannya sampa selesai mandi.

5. Mencelupkan kedua telapak tangannya ke dalam air, lalu menyela-nyela pangkal rambut kepalanya dengan kedua telapak tangannya itu kemudian membersihkan kepalanya dan kedua telinganya tiga kali dengan tiga cidukan.

Note: Menyela pangkal rambut hanya khusus bagi laki-laki. Bagi perempuan, cukup dengan mengguyurkan pada kepalanya tiga kali guyuran, dan menggosoknya, tapi jangan mengurai/membuka rambutnya yang dikepang, karena ada hadist yand diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ummu Salamah yang bertanya kepada Rasulullah,

“Aku bertanya, wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku ini perempuan yang sangat kuat jalinan rambut kepalanya, apakah aku boleh mengurainya ketika mandi junub (mandi besar)?” Maka Rasulullah menjawab, “Jangan, sebetulnya cukup bagimu mengguyurkan air pada kepalamu tiga kali guyuran,” (HR At-Tirmidzi).

6. Mengguyur tubuhnya yang sebelah kanan dengan air, membersihkannya dari atas sampai ke bawah, kemudian bagian yang kiri seperti itu juga berturut-turut sambil membersihkan bagian-bagian yang tersembunyi (pusar, bawah ketiak, lutut, dan lainnya).

 

Tata cara ini berdasarkan penuturan Aisyah Radhiyallahu Anha:

“Apabila Rasulullah hendak mandi junub (mandi besar), beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya sebelum memasukannya ke dalam bejana. Kemudian beliau membasuh kemaluannya dan berwudhu seperti halnya berwudhu untuk shalat. Setelah itu, beliau menuangkan air pada rambut kepalanya, kemudian mengguyurkan air pada kepalanya tiga kali guyuran, kemudian mengguyurkannya ke seluruh tubuhnya,” (HR At-Tirmidzi).

 

Hal-hal yang Makruh dalam Mandi

1. Berlebih-lebihan dalam menggunakan air.

Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam mandi dengan air seukuran satu sha’, yaitu empat mud (empat cidukan telapak tangan).

2. Mandi di tempat yang bernajis, karena dikhawatirkan terkena najis.

3. Mandi dengan bekas air mandi istri.

Hal ini berdasarkan larangan Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wasallam akan hal itu, sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

4. Mandi tanpa ada penutup.

Hal ini bisa seperti dinding atau semisalnya, berdasarkan perkataan Maimunah,

“Aku menaruh air untuk Nabi Salallahu’alaihi Wasallam dan aku menutupi beliau dan beliau mandi,” (HR Al-Bukhari).

Seandainya mandi tanpa ada penutup itu tidak makruh, tentu Maimunah tidak akan menutupi Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wasallam karena beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla itu Maha Pemalu, Maha Tertutup (Suci), dan mencintai sifat malu, maka apabila salah seorang di antara kalian mandi, hendaklah dia menutupi dirinya,” (HR An-Nasa’i).

5. Mandi di air tergenang yang tidak mengalir, hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Salallahu’alaihi Wasallam:

“Janganlah seorang di antara kalian mandi di air yang tergenang, sedang dia mandi junub,” (HR Muslim)

 

 


Referensi

Mengenal Mani, Wadi dan Madzi

Fiqih Islam: Wajib, Sunnah, dan Makruh dalam Tata Cara Mandi Junub (Mandi Besar)

 


Komentar, Pertanyaan dan Masukkan