Keutamaan Sikap Sabar | KH DR Nurul Irfan, M.Ag

04. March 2017 Tausiyah 0

Keutamaan Sikap Sabar

Majelis Ilmu Sabtu Dhuha – Masjid Imanuddin Graha Bintaro

 

Contoh sikap sabar dalam mengalami sakit:

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya” Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’ Nabi berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu. ’Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Contoh kesabaran Rasulullah dalam berdakwah :

Dalam usahanya berdakwah di Thoif, Nabi Muhamad saw. ditemani oleh anak angkatnya yang bernama Zaid bin Harisah. Kepergian Nabi Muhamad saw. ke Thoif ini terjadi pada dua tahun menjelang hijar ke Madinah. Mereka berdua menuju Thoif dengan berjalan kaki. Sesampainya di Thoif, Nabi Muhamad saw. menemui beberapa tokoh penguasa Thoif yaitu Yalail, Mas’ud dan Hubaib. Kepada mereka Nabi Muhamad saw. menyampaikan pokok-pokok ajaran Islam dan beliau juga berharap agar mereka bersedia membantu usahanya dalam menyebarluaskan ajaran Islam. Para penguasa Thoif menolak seruan Nabi Muhamad saw. dan berkata “Sekiranya kata-kata yang kamu serukan itu baik, tentu famili dan kaum kerabatmu akan menerima terlebih dahulu.”

Setelah itu mereka mengusir Nabi Muhamad saw. Bahkan, mereka menyuruh penduduk Thoif untuk menyakiti Nabi Muhamad saw. Mereka menyoraki, mengejek, memukuli, dan melempari Nabi Muhamad saw. dengan batu. Akibatnya tubuh Nabi Muhamad saw.penuh luka dan berlumuran darah. Zaid bin Harisah berusaha melindungi Nabi Muhamad saw. dari tindakan penduduk Thoif. Akibatnya ia juga menderita luka yang cukup parah. Sekujur tubuhnya berlumuran darah.

Dengan bertatih-tatih, mereka meninggalkan Thoif dan beristirahat dibahwah pohon kurma milik seorang penduduk Thoif bernama Rabi’ah. Nabi Muhamad saw. merenungi peristiwa yang baru saja beliau alami. Harapan Nabi Muhamad saw. untuk mendapat dukungan dari Thoif hilang sudah. Mereka malah memberikan perlakuan yang buruk terhadap Nabi Muhamad saw. Perlakuan penduduk Thoif itu tidak terlepas dari campur tangan orang-orang Quraisy Makkah. Mereka telah datang ke Thoif beberapa saat sebelumya. Mereka mengatakan bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhamad saw. adalah bohong belaka. Mereka juga mengancam kepada penduduk Thoif akan membaikotnya apabila mengikuti ajakan Nabi Muhamad saw. Karena ancaman itulah, penduduk Thoif menolak ajakan Nabi Muhamad saw.

Dan dalam keadaan yang menyedihkan itu, Nabi Muhamad saw. memanjatkan doa. “ya Allah! Kepada-Mu lah hamba mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku, dan kehinaan dihadapan manusia. Wahai yang Paling Pengasih diantara para pengasih! Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah, Engkau Tuhanku, kepada siapa hendak Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab sungguh banyak kesehatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berpaling kepada Cahaya Wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan yang menjadikan segala urusan dunia dan akhirat menjadi baik agar Engkau tidak menurunkan kemarahan-Mu kepadaku atau murka kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau Ridho. Tidak ada daya dan upaya selain dengan-Mu”.

Mengetahui keadaan Nabi Muhamad saw. Rabi’ah merasa kasihan. Ia bermaksud menolong beliau dan mengambil beberapa butir kurma, kemudian ia menyuruh budaknya yang bernama Adas untuk menyerahkan kurma tersebut kepada Nabi Muhamad saw. Kedatangan Adas untuk memberikan kurma itu sedikit mengurangi kesedihan Nabi Muhamad saw. Sambil memakan kurma, Nabi Muhamad saw. bertanya kepada Adas, “Dari mana asalmu?” Adas menjawab “Saya berasal dari Niniveh, agama saya Nasrani”. Nabi Muhamad saw. kemudian menerangkan asal kelahiran nabi Yunus bin Matta. “Nabi Yunus adalah saudaraku, ia seorang nabi dan aku juga seorang nabi”. Saat itu juga Adas membungkuk dan mencium Nabi Muhamad saw. dan menyatakan masuk Islam.

Dengan sedih hati, Nabi Muhamad saw. berjalan kembali menuju Makkah. Ditengah perjalanan, Malaikat penjaga gunung menjumpainya dan berkata “Wahau Muhammad! Jika kamu berkehendak, aku akan mengangkat gunung ini dan menjatuhkannya diatas kaum laknat itu.” Nabi Muhamad saw. menjawab “jangan! Aku harap Allah swt. mengeluarkan mereka dari penyembahan berhala kepada menyembah Allah swt. semata. Dan tidak menyekutukan sesuatu pun kepada-Nya.” Demikianlah keluhuran budi dan belas kasih Nabi Muhamad saw. beliau tetap memaafkan orang yang jelas-jelas memusuhi dan menyakitinya. Bahlan, beliau tetap mendoakan mereka agar Allah memberikan petunjuk kepada mereka.

 

Berhati-hati lah dalam menyikapi suatu hadist. Salah satu contoh Hadist palsu tentang terong: “Terong adalah obat segala penyakit”.

 

Nah, kalau hadist ini shahih, contoh Hadist tentang keutamaan Habbatussauda :

”Sesungguhnya Habbatus Sauda ini merupakan obat bagi setiap penyakit, kecuali saam. Aku bertanya, “Apakah saam itu?”. Beliau menjawab, “Kematian.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Ajakan utk bersabar menyikapi sakit karena ganjaran menggugurkan dosa :

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya” (HR. Bukhari)

 

Tentang Bergeser dari Tempat Shalat Wajib untuk Shalat Sunah:

Hendaknya tidak melakukan shalat sunah, sampai berpindah dari tempat yang digunakan untuk shalat wajib. (HR. Ibnu Abi Syaibah).

 


Referensi:

Dakwah Nabi Muhammad SAW ke Thoif

Bergeser dari Tempat Shalat Wajib untuk Shalat Sunah


Komentar, Pertanyaan dan Masukkan