Upaya menjadi orang tua sukses | Erika suryani dewi

05. February 2018 Parenting 0
Sebagai orang tua, jangan sampai menjadikan anak sesuatu yang lebih utama dibandingkan Allah.
Qs at Tagabun : 14-15
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar
Orang tua harus menempatkan Allah lebih tinggi dibandingkan kesenangan dunia termasuk anak anak
Qs Ali Imran : 14
Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)
Sebagai orang tua, jadikan harta dan anak sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah
Qs Al Kahfi : 46
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik menjadi harapan
Jangan sampai menjuluki anak haram. karena setiap bayi yang lahir dalam keadaan suci.
Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR Baihaqi)
Menjadi orang tua/memiliki anak itu ibarat mendapatkan amanah dari Allah. jaga sebaik baiknya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.”  (HR Bukhori)
Perintah Allah jika kita memiliki anak :
1. Tanamkan tauhid
2. Tanamkan bakti kepada orang tua
3. Tanamkan ihsan
4. Ajarkan shalat, jauhi perbuatan munkar, tanamkan sabar
5. Jauhi sikap sombong
6. Bersuara sewajarnya
Qs Luqman 13-19
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Orang tua yang memiliki anak perempuan, ajarkan untuk menahan pandangan, menjaga kemaluan dan menutup aurat
Qs An nur : 31
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
Al ahzab : 59
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Meskipun zaman sekarang tantangan kehidupan luar biasa untuk dihadapi, namun sebagai orangtua harus selalu optimis supaya bisa meniru kaum kaum terbaik dijaman Rasulullah.
Sebaik-baik manusia adalah zamanku, dan kemudian setelahnya, dan kemudian setelahnya. (HR. Bukhari)
Sebagai orangtua, ajarkan adab makan dalam islam kepada anak anak :
Sewaktu aku masih kecil, saat berada dalam asuhan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam, pernah suatu ketika tanganku ke sana ke mari (saat mengambil makanan) di nampan. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu”. (HR. Bukhari)
Sebagai orangtua, ingatkan anak untuk menjauhi zina
Qs Al Isra : 23
Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk
Sebagai orangtua, khususnya yang sudah memiliki anak yang sudah dewasa, baik raga maupun jiwanya, maka nikahkanlah :
Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.” (HR. Bukhari)
Sebagai orangtua harus meyakinkan kepada anak yang dewasa jiwa atau raganyaz bahwa menikah itu tidak membuat dia hidup dalam kesusahan :
Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah mendapat pertolongan Allah Swt, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad)
Sebagai orangtua, yakinkan kepada anak bahwa pernikahan akan membuat rezekinya makin banyak
Qs An Nur : 32
Dan kawinkanlah orang orang yang sendirian di antara kamu, dan orang orang yang layak (berkawin) dari hamba hamba sahayamu yang lelaki dan hamba hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui
Sebagai orang tua, periksa dalam diri, Tipe yang manakah rumah tangga kita :
1. tipe rumah tangga seperti hotel. Kebiasaan seluruh anggota keluarganya dalam rumah tangga ini mereka berkumpul hanya sebentar. Setelah lelah beraktifitas di luar seharian, masing-masing anggota keluarga pulang untuk beristirahat pada malam hari. Esok harinya semua anggota keluarga berangkat lagi, tinggal pembantu yang membereskan semua isi rumah, tak ubahnya seperti hotel.
2. tipe rumah tangga seperti rumah sakit. Seluruh anggota keluarga baru dapat berkumpul jika ada yang sakit. Jika dalam keadaan sehat semua masing-masing anggota keluarga sibuk sendiri-sendiri, tidak punya waktu untuk duduk bersama.
3. tipe rumah tangga seperti pasar. Rumah tangga model ini tidak pernah terlihat sepi. Mulai pagi sampai dengan pagi lagi, ada saja kegaduhan yang membuat kebisingan.
4. ada tipe rumah tangga seperti kuburan. Tipe ini berlawanan dengan tipe rumah tangga nomor tiga, sepanjang masa terasa sepi. Hubungan antar anggota keluarga miskin komunikasi dengan suara. Bila ada yang bertanya, untuk menjawabnya cukup hanya dengan anggukan kepala jika setuju atau menggeleng jika tidak setuju.
5. tipe rumah tanggal seperti ring tinju. Rumah tangga tipe ini selalu meriah, antar anggota keluarganya tidak pernah berhenti selalu ada yang bertengkar. Selesai satu ronde istirahat sebentar lalu bertengkar lagi. Hidup anggota keluarganya persis seperti di atas ring tinju.
6. tipe madrasah. Tipe rumah tangga ini merupakan yang ideal. Hubungan antar anggota keluarga sangat harmonis. Seperti dalam ruang kelas sekolah mereka saling belajar dan mengajar. Jika bertemu selalu merasa bahagia dan saat ada yang berpisah selalu merasa rindu ingin cepat bertemu kembali.
Rumah tangga didalamnya ada rumah, yg dalam Al-Qur’an ada tiga kata yang mendeskripsikannya yaitu manzil, maskan, dan bait. Pengertian maskan dlm
QS. An Naml : 18
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari
karena maskan berasal dari kata sakana yang berarti tenang, tentram, dan bahagia.
Oleh karena itu, rumah dalam pandangan al-Qur’an bukan hanya berfungsi sebagai tempat bermalam, tempat beristirhat atau tempat berlindung. Tetapi lebih jauh, rumah berfungsi sebagai tempat mencari ketenangan batin dan kebahagian. Di dalam rumah (maskan) inilah manusia membangun keluarga sakinah, yaitu tatanan keluarga yang membawa kebahagian dan ketenangan hati.
Jika rumah hanya dijadikan bait, maka tidak jarang rumah dirasakan seperti di neraka. Itulah yang digambarkan Allah dalam
Qs  al Ankabut : 41
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui
sebagai orangtua, ajarkan anak keterampilan hidup sesuai sunnah.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “ajarkanlah anak-anak kalian renang, melempar dan ajari kaum wanita kalian memintal”. (HR Baihaqi)
Jadilah Orangtua yang memiliki anak :
1. fisik kuat
2. pendidikan baik
3. Akhlaq baik
Qs An nisa : 9
Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar
Sebagai orangtua, didik anak untuk mendirikan shalat, tidak hanya melakukan shalat
Qs al Ankabut : 45
Bacalah kitab (Al Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan
Sebagai orangtua, ajarkan anak laki laki adab dalam pipis/buang air kecil :
Hadist dari Aisyah RA, “Barangsiapa yang mengatakan pada kalian bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah buang air kecil sambil berdiri maka janganlah kalian membenarkannya (mempercayainya)”
Bersihkanlah diri dari kencing. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas kencing tersebut (HR Daruquthni)
Sebagai orangtua, ikuti sunnah Rasulullah ketika memiliki anak :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqah Hasan dan Husain dan mengkhitan mereka berdua pada hari ketujuh (setelah kelahiran).” (HR. Ath Thabrani)
Sebagai orangtua harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam mendidik anak :
Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian
Sebagai orangtua, ajarkan kepada anak kita pentingnya silahturahim :
Barangsiapa yang ingin rizqinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahim
Sampaikan kepada anak kita bahwa meskipun kita sudah meninggal, tetaplah mereka menjalin silahturahim dengan kerabat kita :
“Sesungguhnya suatu hal yang paling berbakti ialah silaturahim seorang anak kepada kerabat yang mencintai Ayahnya”. (HR. Muslim)
Sebagai orangtua, akan diminta pertanggungan jawabannya terhadap apapun yang kita lakukan, termasuk tanggung jawab terhadap anak anaknya
Qs Al Isra’: 36
Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggungjawaban
Sebagai orangtua, ajarkan anak untuk berlatih mandiri, dimulai dengan dipisah tempat tidurnya :
Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka. (Hadist)
Sebagai orangtua harus memberikan reward atas prestasi anak dan memberikan hukuman jika mereka melakukan kesalahan :
Jika salah seorang dari kamu memukul, maka hendaknya dia menjauhi (memukul) wajah (Hadist)
Sebagai orangtua bukan menjadikan diri kita semena mena namun mampu menempatkan diri :
Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua. ( HR At Tirmidzi)
Sebagai orangtua harus mempelajari adab memperlakukan anak kecil :
Disampaikan oleh Syaddad bin Hadi, ketika itu Rasulullah mengimami shalat di siang hari –Dhuhur atau Ashar. Dalam shalatnya kala itu, beliau menyertakan salah satu cucunya –Hasan atau Husain. Syaddad kala itu turut menjadi makmum dalam shalat tersebut.

Dilanjutkan oleh Syaddad, “Nabi Saw meletakkan cucunya (di samping beliau), lalu beliau bertakbir.” Shalat pun didirikan. Kemudian, beliau melamakan salah satu sujud dalam rakaat tersebut. Disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad ini, “Beliau melamakan salah satu sujudnya, sehingga aku mengangkat kepalaku.”

Maksudnya, Syaddad menganggkat kepala karena mengira bahwa Rasulullah sudah bangun dari sujud dengan suara yang lirih sehingga Syaddad tidak mendengar suara Rasul. Ternyata, Rasulullah Saw masih dalam keadaan sujud. Namun, “Aku melihat anak itu (cucu Nabi) tengah berada di atas punggung Rasulullah Saw.” Lantaran Nabi masih dalam keadaan sujud, Syaddad pun kembali ke posisi sujud seperti sedia kala.

Seusai shalat, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw sebagaimana disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan pula oleh Imam an-Nasa’i ini, “Wahai Rasulullah, dalam salah satu sujudmu tadi, engkau sujud dengan lama,” demikian kata sahabat. Lanjut mereka, “Sehingga kami mengira ada sesuatu yang terjadi. Apakah ada wahyu yang sedang diturunkan kepadamu?”

Jawab sang Nabi lugas, “Semua itu tidak terjadi,” akan tetapi, lanjut beliau, “anakku (cucuku) ini telah menaiki punggungku.” Jadi, itulah alasan mengapa baginda Rasulullah Saw melamakan salah satu sujudnya. Pungkas beliau menerangkan, “Sehingga aku tidak ingin memotongnya sampai ia puas

Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad supaya didoakan berkah dan diberi nama. Anak-anak tersebut dipangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata, “Jangan diputuskan anak yang sedang kencing, biarkanlah dia sampai selesai dahulu kencingnya.”
Sebagai orangtua, berilah contoh yang baik bagaimana memperlakukan perempuan/wanita, karena mereka makhluk yang sensitif :
hai Anjasah, perlakukanlah gelas-gelas kaca itu dengan lemah lembut.” (HR Bukhari)
Sebagai orang tua, ketahui adab terhadap kelahiran bayi, termasuk mentahnik :
Dahulu anak Abu Thalhah dalam keadaan sakit. Abu Thalhah keluar rumah, saat itu lalu anaknya meninggal dunia. Setelah pulang, Abu Thalhah berkata, ‘Apa yang dilakukan oleh anak itu?’ Ummu Sulaim menjawab, ‘Dia lebih tenang dari sebelumnya.’ Kemudian Ummu Sulaim menghidangkan makan malam kepadanya. Selanjutnya Abu Thalhah mencampurinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata, ‘Tutupilah anak ini.’ Dan pada pagi harinya, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya memberitahu beliau, maka beliau bertanya, “Apakah kalian bercampur tadi malam?’ ‘
Ya,’ jawabnya. Beliau pun bersabda, ‘Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada keduanya.’

Maka Ummu Sulaim pun melahirkan seorang anak laki-laki. Lalu Abu Thalhah berkata kepadaku (Anas bin Malik),   ‘Bawalah anak ini sehingga engkau mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah bersamanya ada sesuatu (ketika di bawa kesini?’Mereka menjawab, ‘Ya. Terdapat beberapa buah kurma.’ Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kurma itu lantas mengunyahnya, lalu mengambilnya kembali dari mulut beliau dan meletakkannya di mulut anak tersebut kemudian mentahniknya dan memberinya nama ‘Abdullah.
Sebagai orangtua yang memiliki anak lakinlaki, ajarkann kriteria dalam memilih calon istri :
Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung (HR Bukhori)
sebagai orangtua yang memiliki anak perempuan, ajarkan kriteria memilih calon suami:
Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR At tirmidzi)

Komentar, Pertanyaan dan Masukkan