Taklim mana | 15 Januari 2019 | Ustadzah Ummu sajjad | Bahagia itu sederhana

15. January 2019 Tausiyah 0
Apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya?
Kebahagiaan adalah bahagia jika melaksanakan perintah Allah dan merasa sedih jika melakukan kemaksiatan. Sebagaimana disampaikan dalam Qs An Nahl 97
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik
Bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan? Dengan cara melaksanakan akidah yg benar, apa ciri cirinya?
  1. Sesuai fitrah manusia
  2. Memuaskan akal manusia
  3. Menenangkan hati manusia
Apa saja fitrah manusia :
  1. Kebutuhan jasmani
  2. Hawa nafsu : nafsu utk menyembah sesuatu yg lebih dari dirinya, naluri untuk mempertahankan/eksistensi diri, naluri seksual/cinta kepada lawan jenis – semua dilakukan dengan cara yg benar (pernikahan)
Banyak manusia yang tidak menggunakan akalnya untuk berperilaku bahkan tingkahnya lebih rendah dari hewan sebagaimana disampaikan di dalam Qs Al A’raf 179
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai
Waspadai perilaku homoseksual sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Sirin berkata, “Tidaklah ada binatang yang melakukan perilaku kaum Nabi Luth selain babi dan keledai”
Ajarkan anak tentang An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam Sistem pergaulan dalam islam seperti batasan aurat, ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram)
Anjuran untuk menikah dan memiliki banyak anak sebagaimana di dalam hadist : Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu) ( HR Abu dawud)
Kebahagiaan itu didapatkan melalui dzikir kepada Allah sebagaimana disampaikan di dalam Qs Ali Imran 191-192
(yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, Tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” Wahai Rabb kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka Engkau telah hinakan dia. Dan tak ada penolong bagi orang-orang yang zhalim
Syukuri kehidupan kita, karena kematian itu sangat dekat dengan kita, sebagaimana disampaikan dalam Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang merenungi wajah seseorang, didapati orang itu sedang bergelak-ketawa. Maka berkata Izrail: ‘Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak ketawa’.” (HR Ibnu Majah)
Doa mendapatkan husnul khotimah :
ALLHUMMAKHTIM LANAA BIHUSNIL KHOTIMAH WALAA TAKHTIM ALAINAA BISUUIL KHOTIMAH”
Artinya:
Ya Allah akhirilah hidup kami dengan khusnul khotimah dan janganlah engkau akhiri hidup kami dengan su’ul khotimah
Penyesalan manusia di akhirat karena mendapatkan siksa atas segala dosa yang pernah dilakukan di dunia sebagaimana disampaikan di Qs An Naba : 40
Sesungguhnya Kami telah Memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.”
Optimalkan kehidupan untuk hal yang baik sebagaimana disampaikan dalam hadist : Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim)
Bersiap siaplah dengan datangnya kematian sebagaimana disampaikan dalam al quran :
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati ( Qs Ali imran 185)
Ketika menjalankan akidah, laksanakan dengan sepenuh hati dan maksimal, Jangan setengah setengah sebagaimana disampaikan di dalam Al quran :
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (Qs Al Baqarah 208)
Menjalankan akidah salah satunya adalah menggunakan hijab untuk muslimah sebagaimana disampaikan di dalam Qs Al Ahzab 59
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Ketika mendapatkan ujian, Jangan merasa sendirian, tidak ada yg menolong, karena Allah selalu bersama kita
Qs At Taubah 40
Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita
Jangan menjadikan kekayaan harta sebagai tujuan utama, gunakan sebagai sarana untuk tujuan akhirat sebagaimana disampaikan oleh Abu Bakar berkata, ”Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.”
Ini adalah kisah hikmah yg bisa diteladani dari Abdurrahman bin Auf yg mendermakan hartanya untuk menolong orang lain, maka Allah membalas dengan kelimpahan harta yg banyak :
Abdurrahman bin Auf merupakan salah seorang dari sahabat Nabi. Beliau r.a mempunyai harta yang banyak. Namun justru itu yang dikhawatirkan oleh beliau-begitulah keadaan hidup para sahabat, tidak memiliki rasa cinta dunia dan ketamakan. Terlebih Nabi pernah bersabda bahwasanya  Abdurrahman bin Auf akan masuk surga belakangan karena terlalu kaya. Beliau r.a pun mencari jalan agar kembali hidup miskin, subhanallah.
Seusai Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya pun jatuh. Abdul Rahman bin Auf r.a pun mengambil kesempatan ini agar menjadi miskin, yakni menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik para sahabat tadi dengan harga kurma bagus. Tujuan Abdurrahman bin Auf pun tercapai. Ia pun kembali hidup miskin setelah membeli seluruh kurma busuk milik para sahabat dengan harga kurma bagus. Para sahabat yang kurma busuknya pun mendapat keuntungan, karena mana ada orang yang mau beli kurma busuk , lebih lebih dengan harga yang bagus. Abdurrahman bin Auf pun senang, karena beliau menjadi miskin, subhanallah.
Namun rejeki itu memang sudah di atur oleh Allah. Manusia boleh berusaha ini itu, tapi tetap yang menentukan itu Allah. Suatu hari tiba tiba datang utusan dari Yaman membawa berita bahwa Raja Yaman mencari kurma busuk. Ternyata di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang dapat menyembuhkannya adalah KURMA BUSUK ! Utusan Raja Yaman tersebut berniat memborong semua kurma Abdul Rahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa. Dan Abdurrahman bin Auf pun kembali menjadi lebih kaya dan lebih kaya lagi. Subhanallah. Dari kisah mulia ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa rejeki sudah diatur oleh Allah. Apakah masuk akal kurma busuk ini menjadi bernilai dan berharga lebih tinggi dari kurma yang bagus. Semoga kita bisa memetik hikmah, bahwasanya bukan kurma bagus yang memberi rejeki tetapi Allah. Bila Allah berkehendak, bahkan kurma busuk pun bisa dihargai mahal.
Kenapa nggak mau diuji? Padahal kalau kita lolos dari ujian tersebut dengan menjalankan sesuai akidah yang benar, maka pahalanya adalah surga, sebagaimana disampaikan di dalam Qs Al Baqarah 214
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Komentar, Pertanyaan dan Masukkan